Romansa 23
Sunday, July 24th, 2005Tuhan ataukah Iblis yang mengutuk hari ini
Dimana saya menyaksikan sesuatu yang begitu meeeeeeeeeeemmbahagiakan….menyedihkan….’pathetic’(miserably inadequate) mungkin kata yang paling tepat Jadi saya berteriak sekencang-kencangnya (di dalam hati tentu), begitu munafik saya melihatnya, ini konyol…
Hampir membuat genangan di pelupuk mata, tenggelam di antara buku jika seseorang tidak menarik saya, pasti sudah mati, terbujur, kaku, seperti kelinci yang telah saya bunuh hari sebelumnya. Jalanan beraspal terasa sempit, lampu-lampu motor membesar dan begitu menyilaukan, orang-orang lalu lalang tanpa satu arah menghalangi jalan ingin digampar (aahh kasar) –hanya ingin pulang untuk membunuh diri kembali sementara, menemani kelinci yang menciptakan sunyi– Romansa yang buruk dan tidak lucu, seperti sebungkus permen yang tidak kita harapkan pada sore gerimis, menginjak-injak semua yang telah tersimpan.
Kata-kata menjadi baku, padat, tak terubah bentuknya…mendesak masuk, menunggu untuk dicerna (kenapa harus dibaca?!—penuh penyesalan).Harusnya dulu kaitkan kata-kata itu pada tiupan angin yang tertawa ringan saat senja masih berwarna jingga (saya yakin kita pernah melihatnya berdua . . . . suatu senja yang mencekam. . .ingat ‘kawan’??!) Apa perlu saya ucapkan tiga huruf, yang nantinya akan begitu kotor pada pendengaran dan otak kalian yang merangkainya, karena hanya tiga huruf itu yang ada sekarang!!!
“Sudah, saya pergi. . . . kamu . . . . ya!Kamu!!Saya pergi dulu, cari saya di suatu waktu. Ketika berada pada waktu yang sama , kita gambar kembali senja dengan warna jingga”