Romansa 23

Tuhan ataukah Iblis yang mengutuk hari ini

Dimana saya menyaksikan sesuatu yang begitu meeeeeeeeeeemmbahagiakan….menyedihkan….’pathetic’(miserably inadequate) mungkin kata yang paling tepat Jadi saya berteriak sekencang-kencangnya (di dalam hati tentu), begitu munafik saya melihatnya, ini konyol…

Hampir membuat genangan di pelupuk mata, tenggelam di antara buku jika seseorang tidak menarik saya, pasti sudah mati, terbujur, kaku, seperti kelinci yang telah saya bunuh hari sebelumnya. Jalanan beraspal terasa sempit, lampu-lampu motor membesar dan begitu menyilaukan, orang-orang lalu lalang tanpa satu arah menghalangi jalan ingin digampar (aahh kasar) –hanya ingin pulang untuk membunuh diri kembali sementara, menemani kelinci yang menciptakan sunyi– Romansa yang buruk dan tidak lucu, seperti sebungkus permen yang tidak kita harapkan pada sore gerimis, menginjak-injak semua yang telah tersimpan.

Kata-kata menjadi baku, padat, tak terubah bentuknya…mendesak masuk, menunggu untuk dicerna (kenapa harus dibaca?!—penuh penyesalan).Harusnya dulu kaitkan kata-kata itu pada tiupan angin yang tertawa ringan saat senja masih berwarna jingga (saya yakin kita pernah melihatnya berdua . . . . suatu senja yang mencekam. . .ingat ‘kawan’??!) Apa perlu saya ucapkan tiga huruf, yang nantinya akan begitu kotor pada pendengaran dan otak kalian yang merangkainya, karena hanya tiga huruf itu yang ada sekarang!!!

“Sudah, saya pergi. . . . kamu . . . . ya!Kamu!!Saya pergi dulu, cari saya di suatu waktu. Ketika berada pada waktu yang sama , kita gambar kembali senja dengan warna jingga”

12 Responses to “Romansa 23”

  1. Hori Says:

    pyiuhh.. ternyata emang ada kok the other side of Ioni… weleh.. sreg srug glek.. ROMANSA 23.. problematika mid 20 kah? terdengar parau namun nyata..

  2. twotinybrain Says:

    …..

  3. akbar Says:

    dinginnya freon diruangan ini tidak terasa lagi sesaat setelah membaca tulisan yang dinginnya seperti negeri bisu yang diperintah oleh khatam-sud.dimana seluruh rakyatnya berjanji untuk hidup dalam kebisuan dengan menjahit mulutnya,tanpa diterangi sinar mentari dalam setiap hari yang mereka lalui.sebuah dongeng yang selama ini didendangkan sebelum saya atau dia tertidur melalui rangkaian kata singkat untuk menghemat biaya untuk tulisan kita esoknya.menjadi sebuah nostalgia lama yang mungkin saya lupakan.ada perasaan bangga namun lirih karena pikirannya.GADIS ANEH!

  4. twotinybrain Says:

    rajin pangkal pandai..
    malas ga naek kelas..
    maap saya ga nyambung..

  5. Eric Says:

    tenang gw gak kmana” koq!!!

  6. fannymelakonlik Says:

    jingganya akan diwarnai dengan apa?? apakah dengan tetesan darah malaikat yang menangis melihatmu melipat indera dibawah sinar kota yang terang-benderang seakan baru tercapai dosa yang menusuk hati penghuni akhirat untuk menyiksa dirimu…APA INI???

  7. nYiit-NyiIT Says:

    segala sesuatu yang membahagiakan tidak mungkin datang dari iblis yang menakutkan tapi segala sesuatu yang menakutkan mungkin berasal dari iblis yang ada dalam diri kita masing2. nyambung ga sih????!!!!!

  8. Aldyno Says:

    Honestly…. suraaaaammmm tapi keren….. apa gua yang so’ngerti…? tapi gw ngerasa dapet benget ‘dark and gloomy’ touch nyah!! APA SIH???!!

  9. quite riot Says:

    ORISINIL ORISINIL !!!

  10. fani Says:

    Menyimak senja di pelupuk waktu, Jerit kemarin masih memendam dengung hingga mewarnai awang-uwung absah ruang.. Mari warnai setumpuk senja dengan keakraban “Mejiku hibiniu”, merata hingga cakrawala.. Aku suka biru semu nila, atau sedikit abu-abu dengan nuansa coklat tanah, Ooh, mungkin Hitam lebih menarik, kedap dan bersahaja. Seperti kedalaman mata seekor kelinci yang sekarat dikerat kata perpisahan, ketika waktu melahap titik ringkih kenangan, melipat-lipatnya menjadi judul, bab, paragraf, dan seterusnya-dan seterusnya..

  11. the wogabov kid Says:

    kesedihan yang tak berujung ?!
    bahkan sebuah akhir memiliki sebuah awal.

    heh, ngapain saya di sini ?!

  12. AGA Says:

    standar
    mean it.

Leave a Reply